SERIN (2)

SERIN (2) Penulis : Lidwina Ro Ya, aku mengakui, aku memang sering membela Serin. Aku sendiri tidak mengerti, mengapa selalu ada keinginan dalam hatiku untuk membela dan melindungi Serin, walaupun Serin memandangku sebelah mata. Tidak apa-apa. Dia hanya seorang bocah yang sedang terluka. Itu saja. Serin terluka dan bingung karena kedua orang tuanya bercerai ketika dia masih SD. Kemarahannya semakin meningkat karena ibu kandungnya tidak mau membawanya. Pada akhirnya dia harus dititipkan pada orang tua Mas Arga di kampung sementara Mas Arga tetap melanjutkan bekerja di Surabaya. Awalnya Mas Arga tidak setuju saat aku ingin memindahkan sekolah Serin di Surabaya. Tetapi melihat sepasang matanya yang dingin saat aku berkunjung di rumah mertua, seperti ada dorongan kuat di hatiku untuk membawanya ke kota. Aku seolah-olah pernah mengenal sepasang mata seperti mata milik Serin. Sepasang mata yang menjaga jarak karena takut terluka lagi. *** Di luar ruang kelas Serin, ak...