Postingan

KENCAN (2)

Gambar
KENCAN (2) Penulis : Lidwina Ro  Hujan sudah reda, menyisakan aroma petrikor dan udara yang lembab dan menenangkan. Tapi entah mengapa, kali ini aku penasaran tidak menemukan alamat Arini yang sudah dia share kemarin. Sudah lima kali aku bolak balik menyusuri jalan ini, akan tetapi selalu berakhir di ujung pertigaan jalan yang merupakan tanah kosong. Sialnya, Arini tidak bisa aku hubungi lagi, sejak percakapan siang di hujan deras tadi. Mengapa, ya, tiba-tiba ponsel Arini tidak aktif? Sebenarnya ke mana dia? Aku menghela napas. Setelah memarkir sepeda motor di depan tanah kosong, aku mencoba membaca nomor rumah Arini sekali lagi. Lalu menatap tajam tanah kosong yang tampak terlihat lama tak dijamah manusia lagi. Banyak ditumbuhi ilalang, tak terawat, kotor dan .... “Mas!” Aku menoleh kaget. Seorang wanita paruh baya tampak keluar dari rumah, persis di sebelah tanah kosong itu. Aku segera mengangguk sopan. “Masnya mencari siapa, ya?” “Eh, anu, Bu. Mohon maaf, saya sedang mencari al...

KENCAN

Gambar
 KENCAN Penulis : Lidwina Ro  “Halo? Halo, Mas Galih, ya?”  Suara manja menyapa dengan lembut saat aku mengangkat ponsel. Suara yang sudah familier di telingaku itu langsung memecah kantuk. Ibarat lampu neon lima Watt, kini mataku berubah terang benderang, seterang neon seratus Watt. Aku pun segera duduk di pinggir kasur. “Hai, Arini!” sahutku agak keras, sambil tersenyum-senyum bahagia sendiri. Maklum, di luar deras, takut kalau gadis itu tidak bisa mendengar suaraku, karena kalah oleh suara derasnya hujan yang mengamuk siang ini. Entah mengapa, jaringan telepon Arini bisa menerobos masuk di cuaca yang buruk. Ada tawa kecil di ujung sana. Sedikit genit. Tawa yang spontan membuyarkan niat tidur siangku. Hebat juga Arini bisa-bisanya dia meneleponku di hujan deras. Karena biasanya sinyal ponsel akan ngadat mendadak di cuaca buruk seperti sekarang ini. “Lagi ngapain? Tumben menelepon. Sudah kangen padaku, Rin?” godaku nakal. Arini tertawa cekikikan. “Cuma mau mengingatkan s...

RENCANA

Gambar
  RENCANA Penulis : Lidwina Ro  Ketika aku sudah cukup umur, akhirnya Suster Sisil bercerita, dulu aku ditemukannya di depan pintu gerbang panti asuhan. Sedih? Pasti. Kecewa? Tentu saja. Siapa yang tidak sedih dan kecewa ketika mengetahui bahwa kehadirannya tidak diinginkan? Ya, aku adalah anak yang dibuang. Tetapi Suster Sisil selalu punya pandangan lain. Dengan santai dia memeluk bahuku sambil tersenyum, dan mengatakan kalau Tuhan memang jagonya membuat skenario. Bukan skenario kacangan. Tetapi skenario hebat yang sudah pasti diukur dengan jitu. Tuhan itu ibarat guru, yang tidak salah membagi soal ujian pada murid-murid. Kata Suster Sisil, tidak mungkin kalau Tuhan membagi soal ujian murid SMA pada murid SD. Semua soal ujian dibagikan sesuai dengan takaran pelajaran dan kelas masing-masing murid. Jadi kerjakan saja dengan tenang, dan jawab soal-soalnya di kertas ujian tanpa banyak tanya. Begitu sederhana, bukan? “Kalau ada soal yang tak bisa aku jawab bagaimana, Suster?” tan...

BATAS WAKTU (2)

Gambar
  BATAS WAKTU (2) Penulis : Lidwina Ro  “Selamat malam Pak Danar,” sapa salah seorang karyawan kafe, saat melihatku menghampiri dan berbicara pelan pada Yosefin. Aku mengangguk, membalas salam. “Duluan, ya!” Yosefin mengikutiku dari belakang tanpa suara. Aku tahu, dia terpaksa. Gadis itu lalu melambai kecil pada teman-teman  kerjanya. Kudengar beberapa ada yang berdehem menggoda, sisanya menatap dengan rasa ingin tahu yang besar. Dengan halus, Yosefin duduk manis di kursi depan, tepat di sebelahku. Seperti biasa, gesturnya kaku seperti patung, dan menjaga jarak. Masih tanpa sapa, tangan Yosefin mendekap erat tas dalam pangkuannya. Sementara kedua matanya menatap lurus arah jalanan dengan sedikit tegang. Jelas kelihatan sekali, kalau enggan menoleh ke arahku. “Kau kelihatan agak kurus.” ujarku memecah kesunyian, sambil memundurkan mobil. Pak Suryo memberi aba-aba dengan cekatan, la “Apa?” Yosefin menoleh kaget, menatapku seperti melihat orang aneh. “Apa kau makan dengan be...

BATAS WAKTU

Gambar
 BATAS WAKTU Penulis : Lidwina Ro  Tidak banyak yang berubah di kafe itu. Masih berupa bangunan berukuran sedang, dengan cat abu-abu muda diselingi garis merah terang di tepinya. Sebuah kafe biasa yang tak mencolok. Tempat parkir yang lumayan luas, dengan taman kecil dan air mancur kecil dekat pintu masuk. Jenis musiknya pun terdengar masih memilih seputar lagu-lagu barat ringan yang sedang populer.  Aku menajamkan mata, mencoba menelisik ke dalam kafe lewat kaca besar samping pintu masuk, dari dalam mobilku yang terparkir di depan halaman kafe. Kursi-kursi besi, dan sebagian lagi sofa yang empuk di sudut ruang hampir tidak berubah tata letaknya. Bahkan asbaknya yang unik terbuat dari ukiran kayu terlihat masih sama. Oh, rupanya ada yang baru, yaitu beberapa tanaman perdu berwarna hijau kuning, juga tanaman sejenis palem, diletakkan di tiap sudut ruang, menambah nyaman hati pengunjung yang menatapnya. Sementara dua pramusaji lalu lalang meletakkan menu di setiap meja tamu...

AINI

Gambar
 AINI Penulis : Lidwina Ro “Bangun, Aini, aku di sini.” Aku menatap sendu pada gadis koma, yang tergolek lemah dengan harapan-harapan baik yang tak pernah putus. Entah sudah berapa kali aku berbisik di telinga gadis itu, tapi sia-sia. Mata Aini tetap tertutup. Tidak ada respons yang berarti, setelah tiga hari berlalu. Aini seperti sedang tertidur panjang, dan tidak mau diganggu. Tangis cemas seluruh keluarganya, seperti tak dianggap, seakan angin lalu yang datang dan pergi begitu saja. Sumpek benar dadaku melihat keadaan Aini yang mencoba mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur berlebihan. Aku baru saja hendak keluar meninggalkan kamar pasien yang di dominasi dengan warna hangat krem muda itu, saat aku mendengar Aini merintih. Segera aku membalikkan badan. Sambil menggumam tidak jelas, tangan Aini menggapai di udara. Seolah mencari pegangan. Ah! Akhirnya! Akhirnya Aini mulai sadar juga dari koma. “Jangan ... jangan tinggalkan aku. Aku mohon ....” Aku tertegun mendengar gum...

BASWARA

Gambar
 BASWARA Penulis : Lidwina Ro  Satu jam lebih sudah aku menunggu di kampus, tetapi mengapa jemputanku belum datang juga? Resah aku meneruskan bacaanku, sekedar untuk membunuh rasa bosan. “Maaf, apa kamu Yovi?” Aku mengangkat wajah dari novel yang kubaca. Aku mengernyit heran pada lelaki asing yang berdiri dengan raut penuh salah itu. Wah, bagaimana lelaki itu bisa tahu namaku? “Siapa kau?” tanyaku waspada. Senyum lega yang mencetak dua lesung pipi, segera menarik perhatianku. Hm, tampan juga. “Baswara. Maaf kalau kau menungguku terlalu lama. Tadi sangat macet,” sahutnya seraya meraih kruk yang tergeletak di sisiku. “Mari,” sambungnya sopan sambil meraih tanganku untuk bangun dari tangga kampus. “Eh! Apa yang kamu lakukan?” Aku menatap tajam pada lelaki yang sudah bersiap membantuku berdiri itu. “Mengantarmu pulang.” “Ta-tapi siapa kau?” “Aku Baswara.” Baswara. Baswara. Tapi siapa Baswara? Mengapa aku tidak pernah melihat dia sebelumnya? “Apa kau sopir baru ayahku?” Lelak...