Postingan

DUA PERSEN

Gambar
 DUA PERSEN Penulis : lidwina_ro Cuma dua puluh tiga ribu rupoah. Kam pret! Kubanting dompet lusuh itu. Ini namanya pelecehan. Harga diriku tercoreng. Bagaimana mungkin usahaku hanya seharga sepiring nasi Padang? Apa tidak ada benda berharga yang lain? Penasaran kupungut dompet itu. Membukanya sekali lagi, dan memang kosong. Kalau hanya untuk melindungi uang yang tak seberapa banyak itu, mengapa wanita kurus tadi mengempit dompetnya dengan primpen? Tiba-tiba sebuah foto berukuran 3x4 terjatuh. Hampir saja aku menendangnya, saat seperti ada sesuatu yang menahan kakiku. Gusar aku meraih fotonya. Foto hitam putih anak laki-laki. Keningku berkerut. Sesomplak-somplaknya otakku, mataku masih awas, dan masih punya dua persen suara hati. Tiba-tiba tubuhku bergetar dan membeku. Liar langkahku bergerilya sekitar pasar. Mencari mangsaku, sosok wanita kurus yang bahkan wajahnya tidak sempat aku lihat tadi. Aku menyisir jalan sempit ratusan lapak, dan hatiku lega luar biasa begitu netraku menya...

Sandaran Hati

Gambar
 SANDARAN HATI Penulis : lidwina_ro “Bu, ayo makan, aku sudah lapar.” Kulihat ibu masih duduk menghadap ke arah jendela. Matanya entah menatap apa, karena di luar sudah gelap. Mungkin kah kesunyian malam adalah teman terbaik buat menitipkan segala luka? “Bu,” panggilku lagi. Kali ini Ibu menoleh, dan tersenyum. Sebaik dan seceria apa pun senyumnya, Ibu tidak mungkin berhasil menipuku lagi. Senyum terbaik Ibu sudah lenyap seiring dengan mulai seringnya Ayah tidak pulang ke rumah lagi. Aku memang sempat mendengar Ibu dan Ayah bertengkar besar di suatu malam, dulu. Sejak saat itulah wajah ibu tak lagi berseri. Aku bahkan tidak melihat mereka berdua berbicara atau bercanda lagi. Naluriku berbisik, semua ini tidak baik. Kemarin, aku hanya bisa melongo kaget ketika Asri tetanggaku yang juga sebangku denganku di kelas, bertanya pelan sepulang sekolah. “Apa benar Ti, kalau ibumu adalah istri siri Pak Arya?” “Kata siapa, As?”  “Kata ibuku lah.” “Apa itu istri siri, As?” Astri menatapku...

ORANG BAIK

Gambar
 ORANG BAIK Penulis : lidwina_ro Aku melirik seorang anak lelaki sedikit gemuk berumur sekitar sepuluh tahunan, bersandal jepit, yang baru saja masuk ke dalam tenda penjual nasi goreng. Sesaat anak itu celingukan. Rambut dan kausnya setengah basah, terguyur sisa rintik hujan yang memang dari siang awet tak mau berhenti. “Nasi goreng apa mi?” sapa Mang Udin melirik anak itu, sambil tetap sibuk membolak balik nasi goreng pesanan orang dalam wajannya.  Mata anak itu hanya mengerjap. Tidak menjawab, hanya mengambil tempat duduk, persis di sebelahku. Sambil menyeruput teh hangat, aku baru sadar ada yang lain dari anak ini. Matanya sedikit juling, dan mulutnya tidak mengatup rapat sempurna. Netranya gelisah bergerak ke kanan dan ke kiri, entah apa yang dipikirkan anak tunadaksa ini. Tiba-tiba anak itu berdiri. Tetapi Mang Udin dengan sigap menghardik. “Eit, mau ke mana? Tunggu, Tung. Ayo makan nasi gorengnya dulu!” Anak lelaki itu menatap Mang Udin ragu. Segera Mang Udin menghampiri...

RINDU (3)

Gambar
RINDU (3) Penulis : Lidwina Rohani  “Lin-Lintang?” Aku menggigit bibir, seperti merasakan kembali sakitnya puluhan pisau menancap di ulu hatiku ketika ingat bahwa aku telah kehilangan Lintang ... sekali lagi. Aku bahkan belum puas menggenggam tangan mungilnya. Tak kusangka, Lintang semakin bertambah besar dan cantik. Tidak ada sedikit pun ada setitik pun guratan kesakitan pada wajahnya seperti yang terakhir kali dia menarik napas untuk yang terakhir kali. Tapi di sana ... Lintang begitu sempurna. “Ceritakan padaku,” desak Mas Vin lirih. “Jangan memendam semua sendirian, Lira. Apa yang terjadi?” Aku menggeleng samar sedikit putus asa. Tidak tahu harus mulai dari mana mengawali cerita. Semuanya terlalu indah, sekaligus menyakitkan. “A-aku sebenarnya juga tidak sepenuhnya mengerti, Mas. Aku seperti bermimpi bertemu Lintang atau di alam bawah sadarkah aku, aku tidak jelas. Aku ... aku hanya sangat merindukan Lintang.” Kutarik udara sebanyak mungkin sekedar untuk melonggarkan dadaku ya...

RINDU (2)

Gambar
RINDU (2) Penulis : Lidwina Ro  Lintang menoleh, tersenyum bahagia sambil mengerling cantik. “Tentu saja ini rumah Lintang, Ma.” Ah! Aku terperangah kaget. Bukan karena Lintang lagi-lagi berhasil menebak isi pikiranku. Bukan. Tetapi ... mengapa Lintang menyebut ini rumahnya? “Ru-rumah Lintang?” tanyaku ingin memastikan sekali lagi. Lintang menghentikan langkahnya, menatapku sambil mengangguk serius. “Tapi ... tapi rumah kita bukan di sini, Sayang,” sambungku tak kalah serius. Lembut Lintang mengangguk. Sontak aku merasa gugup dan takut ketika anakku tiba-tiba memeluk kakiku erat. Seperti ada lonceng alarm berbunyi di hatiku,  sebagai pertanda sesuatu, yang aku sendiri tidak tahu. “Mama memang harus pulang sekarang,” bisik Lintang saat aku merendahkan tubuh sehingga kepala dan mata kami sejajar, saling tatap. Pulang? Lintang menyuruhku pulang? Ada rasa sakit luar biasa yang tak bisa aku bendung, menghajar di setiap sisi ceruk hati. Belum puas ribangku menatap anakku, dan dia me...

RINDU

Gambar
 RINDU Penulis : Lidwina Rohani Bukan karena rumput hijau yang menghampar ini tidak menarik. Jujur dalam hati aku sangat suka sekali, juga  pada lenggak lenggok dan raksi seribu bunga yang berpadu rapi di antara bauran rumputnya. Akan tetapi aku lebih terpesona dengan sepasang mata yang sedang menatapku lurus itu. Berkelip seperti kejora di antara candra. Hatiku serasa dibasuh oleh air pesam. Luar biasa nikmat. Ada semacam daya tarik yang tidak aku kenali, menyeretku lambat ke muara yang sejuk dan bening. Sesuatu yang tidak mungkin bisa aku tolak. Suatu rasa yang menyeruak hebat yang membuat jantung ini ikut berdegup kencang. “Lin-Lintang?” tanyaku gugup bercampur haru. Apakah aku sedang berhalusinasi? Benarkah yang di hadapanku ini adalah rindu yang menghiasi hari-hariku?  Ribang yang membelitku entah berapa warsa ini seperti menemukan muara. Hari-hariku yang biasanya hanya berhias bayangan wajah mungilnya, sekarang sebaliknya. Kuraih hati-hati tangan mungil itu, membela...

TAKUT

Gambar
  TAKUT Penulis : Lidwina Ro Di dalam KBBI, kata ‘takut’ artinya sama dengan merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Takut juga bisa diartikan tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dan sebagainya) Selain itu, takut juga berarti gelisah, khawatir, kalau-kalau .... Dan terakhir, takut bisa berarti takwa, segan dan hormat (kepada Allah) Lawan kata takut adalah damai. Ketakutan dan kedamaian tidak pernah bisa bersatu. Seperti api dengan air yang tidak bisa bersatu, demikian pula lah kata takut dengan damai. Jadi di mana ada ketakutan, di situ tidak akan pernah ada damai. Sebaliknya, di dalam damai tidak akan pernah ada ketakutan.  Lalu, dari manakah asalnya damai itu? Damai berasal dari Tuhan.  Ada hal sederhana yang mungkin tidak kita ketahui. Mungkin semua orang cenderung membiarkan, atau menganggap biasa bahwa ketakutan itu hal yang wajar-wajar saja. Tetapi tahukah kita kalau ketakutan itu sebenarnya adalah bukan perasaan yan...