Postingan

GERIMIS MENCEKAM

Gambar
 GERIMIS MENCEKAM Penulis : Lidwina Ro  Aku gemetar. Tidak mungkin telingaku salah dengar. Ada ketukan di jendela kamarku. Ini untuk yang ke dua kalinya. Sepertinya aku tidak bermimpi. Ritme jantungku meningkat cepat. Penasaran dan takut melebur jadi satu. Untuk kembali tidur, aku sudah tak bisa lagi. Gerimis belum berhenti sejak sore, menambah ciut hatiku. Bapak dan Ibu pergi ke luar kota menjenguk Nenek. Aku malas ikut, karena rencananya mereka hanya menginap semalam saja. Lebih baik aku belajar di rumah karena Senin sudah masuk pekan ulangan. Sepertinya aku mendengar samar ketukan lagi. Kelihatannya berganti tempat. Aku merinding. Pikiranku melayang liar. Jangan-jangan itu arwah tetanggaku sebelah yang tiga hari lalu meninggal. Ah, tidak, tidak! Konyol sekali aku! Musyrik! Si alnya, aku malah kebelet pipis. Duh, menyebalkan! Terpaksa aku turun dari kasur, tak lupa kuselipkan ponsel di saku babbydoll-ku. Suara Cakra Khan masih setia berulang-ulang menemaniku sejak sore gerim...

MOVE ON

Gambar
 MOVE ON Penulis : Lidwina Ro Pernah jatuh cinta? Bagaimana kira-kira rasanya?  Berjuta rasanya bukan? Semangat dan bahagia bila bisa berjumpa. Berjuta rasanya kata penyanyi  lawas Mbak Titik Puspa. Dan bagaimana dengan putus cinta? Berjuta rasanya juga, lho! Apalagi kalau diputus sepihak. Ibaratnya, bumi seperti berhenti berputar. Aku pernah putus cinta. Makan tidur tidak enak. Kepala terasa berat. Hati dan pikiran saling berperang, campur aduk tak jelas. Semua pertanyaan dan asumsi seolah berputar-putar dalam kepala tanpa jeda. Selanjutnya hidupku mulai hampa, dan labil. Sahabat pun mulai merapat, satu persatu mereka membagikan jurus andalan untuk membantuku keluar dari kesedihan. Mereka berteriak, move on! Ketika itu aku tidak tahu cara move on yang benar. Jangan remehkan rasa yang tertinggal. Apalagi memaksa untuk mengingkari rasa yang tertinggal. Sumpah. Tidak akan pernah berhasil dengan cara itu. Karena sebenarnya move on bukan cara mengingkari atau melupakan p...

WANITA PENGHIBUR

Gambar
WANITA PENGHIBUR Penulis : Lidwina Ro Namanya Pethi. Seorang wanita jenaka, yang entah dari mana asalnya. Sering berdiri di balik luar terali pagar besi kos kosanku, tepatnya di Jalan Pecindilan Terate. Dia suka memperhatikan kegiatan anak-anak kos. Kadang-kadang dia bertanya, mengajak bercerita, tetapi yang sering terjadi kadang-kadang anak-anak kos malah menjahilinya. Mengerjainya. Sebagai kompensasi, aku dan anak-anak kos sering memberinya camilan, gorengan, juga Indomi bikinan sendiri. Meskipun tutur katanya tidak beraturan, sering kali sukar dimengerti, tetapi kehadiran Pethi menyegarkan bagi kami semua. Bagiku, tak ada Pethi, seperti ada yang kurang. Hari-hariku tidak seru jika belum menjahilinya. Waktu itu Malam Minggu. Ibu kosku terkenal disiplin, jadi aku berusaha pulang tepat waktu, jika tidak ingin diinterogasi oleh wanita tua, asli Madura yang sering bicara dengan logat daerah aslinya itu. Beliau itu biasanya patroli di teras rumah induk, samping kosan. Hari ini tumben seka...

Orang Ke Tiga

Gambar
  ORANG KE TIGA Penulis : Lidwina Ro Ketika itu senja masih menyisakan warnanya. Aku menatap kosong pesan singkat dari Melati. Kuselipkan ponsel di tasku, lalu kembali menatap ke atas langit. Pelan-pelan lembayung yang mewarnai senja semakin pudar, seakan mengingatkanku pada kondisi diriku sendiri. Pudar. “Kita pulang sekarang, Rei. Sudah mulai gerimis.” Aku menoleh pada lelaki di sebelahku yang mengangguk samar. Dia berdiri, lalu membantuku berdiri pula. Kami berlari kecil meninggalkan pantai menuju mobil yang di parkir. “Lihat, rambutmu basah, Lel.” Lembut lelaki itu mencoba mengeringkan rambutku dengan tisu setelah kami berada di dalam mobil. Spontan aku memiringkan kepala, menjauh dari jangkauan tangannya.  “Antar aku pulang sekarang, Rei. Aku tahu kau akan ke mana setelah ini.” pintaku sambil tersenyum. Rei menatapku tajam. Kulihat ada sekelebat sinar yang tidak kumengerti terselip di kedua mata legamnya. Tetapi Rei tidak berbicara apa-apa sampai mobilnya berhenti tepat d...

KARAM

Gambar
 KARAM Penulis : Lidwina Ro  Aku bertemu dia. Lelaki jangkung berhidung tinggi dengan garis rahang tegas dan dagu yang meninggalkan bekas sisa cukurannya. Aromanya begitu maskulin. Aku berani bertaruh, setiap gadis pasti akan sejenak menahan napas bila dia melintas.  Hari masih pagi. Seharusnya menjadi Senin yang menyebalkan, karena aku harus kembali melakukan pekerjaan rutinku. Tetapi untuk pertama kalinya hari ini aku sedikit bersemangat. Entah mengapa, ada sunyi yang mengepung telingaku, dan memaku tatapanku ke arahnya. Hati ini seperti tidak rela kehilangan momen yang aneh ini. “Mau ke mana, Mbak?” Ya, ampun! Apa wajahku kelihatan konyol sehingga dia terpaksa menyapaku? Suaranya sopan dan dalam. Tidak ada kilat iseng dalam nada dan sorot matanya. Membuat diam-diam aku merasa sedikit tersanjung, lebih tepatnya lagi ... aku lega. “Kerja,” sahutku sambil membuang muka ke samping, pura-pura mencari angkot. Dalam hati aku ingin, dia bertanya sesuatu lagi padaku. Dih, norak...

LUPA KAMAR

Gambar
 LUPA KAMAR Penulis : Lidwina Ro  “Bu, aku kebelet pipis,” bisikku pada Ibu yang sedang menyuapi Mbak Ajeng. Ibu yang sedang menyuapi makan Mbak Ajeng menoleh. “Raden tahu jalannya kamar mandi? Atau Ibu antar?” “Sendiri saja. Aku masih ingat jalannya, kok, Bu,” sahutku penuh percaya diri. Tetapi ternyata, setelah habis pipis,  aku lupa jalan menuju kamar Mbak Ajeng dirawat karena  sakit tipes. Beberapa kali aku salah memasuki kamar. Celakanya lagi aku tidak hafal nomor kamar Mbak Ajeng di rawat. Lorong rumah sakit begitu panjang. Di kanan kirinya berjajar banyak kamar yang hampir semua sama. Aroma karbol di sepanjang koridor rumah sakit sesekali tercium menyengat. Aku sungguh tidak suka.  Seorang anak lelaki yang sebaya denganku, sedang duduk di salah satu bangku sendirian. Wajahnya juga sebingung aku. Memandangi satu persatu orang yang bergantian keluar masuk ke dalam kamar dengan melongo. “Hei, apa kau juga lupa kamarmu?” tanyaku kemudian, setelah duduk di dek...

DUNIA MAYA

Gambar
 DUNIA MAYA Penulis : Lidwina Ro Dengan kesal aku menyalakan batang rokokku yang ke empat. Seharusnya ini adalah malam kemenangan, dan mungkin malam yang penuh sensasi. Bagaimana tidak. Hampir setahun aku merayu Hera -teman facebook-ku- untuk temu kangen, tetapi gadis itu selalu menolak dengan halus, dengan berbagai macam alasan pula. Mungkinkah Hera membatalkan pertemuan malam ini? Dengan gusar aku menggulir layar ponsel. Sekali lagi aku memaki dalam hati, karena jawabannya masih centang satu. Apa iya gadis itu mempermainkan aku? Apa iya Hera menipuku? Atau ... apa mungkin dia sedang terjebak macet? Atau jangan-jangan dia sudah punya pacar? Dadaku seperti erupsi membayangkan gadis dunia maya-ku bergandengan tangan dengan pria lain. Dengan segera kutepis anganku yang liar. Tidak mungkin! Hera-ku tidak mungkin sejahat itu. Hera adalah gadis polos dan tidak gampangan, karena itulah aku penasaran, semakin mengejarnya. Berkali-kali Hera mengelak, dan terus menerus membuat setumpuk al...