Postingan

SERIN (2)

Gambar
 SERIN (2) Penulis : Lidwina Ro  Ya, aku mengakui, aku memang sering membela Serin. Aku sendiri tidak mengerti, mengapa selalu ada keinginan dalam hatiku untuk membela dan melindungi Serin, walaupun Serin memandangku sebelah mata. Tidak apa-apa. Dia hanya seorang bocah yang sedang terluka. Itu saja.  Serin terluka dan bingung karena kedua orang tuanya bercerai ketika dia masih SD. Kemarahannya semakin meningkat karena ibu kandungnya tidak mau membawanya. Pada akhirnya dia harus dititipkan pada orang tua Mas Arga di kampung sementara Mas Arga tetap melanjutkan bekerja di Surabaya. Awalnya Mas Arga tidak setuju saat aku ingin memindahkan sekolah Serin di Surabaya. Tetapi melihat sepasang matanya yang dingin saat aku berkunjung di rumah mertua, seperti ada dorongan kuat di hatiku untuk membawanya ke kota. Aku seolah-olah pernah mengenal sepasang mata seperti mata milik Serin. Sepasang mata yang menjaga jarak karena takut terluka lagi.   *** Di luar ruang kelas Serin, ak...

SERIN

Gambar
 SERIN Penulis : Lidwina Ro Aku sontak membuka mata saat mendengar suara menggelegar Mas Arga. Sambil menajamkan telinga, aku mencoba mengumpulkan ingatan. Rasa lelah dari siang tadi begitu menumpuk sehingga aku ketiduran saat menidurkan Satria. Aku mendengar Mas Arga membentak seseorang. Tetapi bentakan Mas Arga rupanya tidak ada tanggapan. Aku hanya menangkap suara kemarahan Mas Arga saja yang dominan tinggi, dan sampai kedengaran di dalam kamar tidur.  Ah! Ya, ampun! Itu pasti Mas Arga sedang mengomeli Serin yang baru pulang. Entah dari mana saja anak itu seharian. HP Serin mati sejak siang, sehingga aku sulit menghubunginya.  Buru-buru aku mencari sandalku, lalu keluar dari kamar tidur. Seperti biasa Mas Arga tak bisa mengendalikan emosinya. Semua pertanyaan bernada menyudutkan, tidak memberi kelonggaran pada anak yang masih duduk di bangku SMP itu. “Ayah tidak mau ini terulang lagi, Serin! Kau dengar?”  Seperti biasa, anak SMP itu hanya menunduk jika dimarahi. T...

PIPI DONAT (2)

Gambar
 PIPI DONAT (2) Penulis: Lidwina Ro Rikok tergelak mendengar jawabanku yang agak ketus. Melihat caranya tertawa, sepertinya dia bahagia sekali kalau berhasil membuatku jengkel. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Terkadang aku ingin sekali tahu. “Aku harus pulang, Rik.” Bukannya minggir, lelaki itu malah menghadang di tengah jalan. Duh, mau apa dia menghalangi kali ini? “Lain kali banyaki gula donatmu. Apa gula sekarang mahal?” Aku menarik napas dalam-dalam. Dulu katanya donat yang aku jual terlalu kecil. Kemarin katanya donat agak gosong. Sekarang kurang gula. Loh, kalau tidak suka, ya tidak usah beli. Begitu saja, kok repot. Ah, tentunya aku hanya menggerutu di dalam hati. Mana berani aku membantah? Apalagi menantang matanya Riko. Aduh! “Pipi Donat! Aku bicara kamu malah pergi. Besok ulangan Bahasa Inggris, aku  pinjam catatan PR, ya!” Tanpa menjawab, aku menyingkir. Dulu memaksa menyontek PR Kimia. Kemarin pinjam catatan Fisika, sekarang catatan Bahasa Inggris. Heran ak...

NOVEL PERTAMAKU

Gambar
 NOVEL PERTAMAKU Penulis : Lidwina Ro Segala sesuatu yang terjadi pertama kali di dalam hidup akan bermakna istimewa sekali. Misalnya ketika kita masuk sekolah SD pertama kali. Masuk sekolah SMP pertama kali. Masuk sekolah farmasi pertama kali. Naksir seseorang pertama kali. Jalan bareng dengan pacar pertama kali. Proses melahirkan pertama kali. Menimang bayi untuk yang pertama kali. Mendengar mulut bayi sulung kita pertama kali menyebut ‘mama’ .... Masih banyak hal-hal yang terjadi pertama kali di hidup ini yang tidak tersebutkan. Semua yang pertama kali itu, terekam sangat baik di kepala dan tidak mudah dilupakan. Setiap kali ada saja hal pemicu untuk mengingat kembali kenangan dan perjuangannya di masa itu. Ehm. Seperti halnya buku solo saya yang pertama ini. Sangat berkesan sekali. Apalagi bagi orang awam seperti saya. Sebenarnya saya belum lama ikut komunitas menulis, yaitu kurang lebih masih sembilan bulanan. Eh, seperti seorang ibu yang sedang mengandung, ya. Akhirnya saya m...

PIPI DONAT

Gambar
  PIPI DONAT Penulis : Lidwina Ro Aku benci dengan Riko. Lelaki itu tidak hanya jahil, tetapi juga selalu menggangguku setiap hari. Ada saja cara Riko membuat aku jengkel, tetapi aku selalu pura-pura tidak mendengar ocehannya yang kadang menyakitkan hati itu. Tak jarang Riko mengomeni rasa daganganku dengan suara keras. Tentu saja dia punya tujuan supaya aku dapat mendengar komennya sekaligus menyaksikan tawa teman-temannya yang merasa lucu dengan semua komen Riko tentang donat. Dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu tidak membuatku menyesali diri. Semua yang mampu aku kerjakan untuk keluarga, aku jalani tanpa bersungut-sungut. Salah satunya adalah membantu ibuku berjualan donat. Setiap hari aku menitipkan donat bikinan ibuku di kantin sekolah. Seminggu ini aku bahkan rela bangun pagi-pagi sekali demi membuat risoles mayones untuk meningkatkan pendapatan. Tahun depan adikku akan masuk SMP. Perlu biaya untuk membeli seragam, buku tulis, dan alat sekolah lainnya. Otomatis aku har...

TELUR ASIN

Gambar
 TELUR ASIN Penulis : Lidwina Ro Apa yang terlintas di pikiran anda jika mendengar kota Brebes? Ya, betul, bawang merah dan telur asin! Hari gini bawang merah mahal lagi naik daun. Sumpek enggak, sih? Nggedabrus telur asin saja, ya.  Nah, pada awalnya telur asin digunakan untuk ritual sembahyang orang Tionghoa kepada Dewa Bumi di Brebes. Bercermin dari sejarah ini, maka telur asin diangkat oleh Kemendikbud sebagai warisan budaya pada tahun 2020. Lambat laun telur asin menjadi makanan oleh-oleh khas dari Brebes. Masyarakat Indonesia ternyata banyak yang menyukai telur asin, karena rasanya yang gurih dan masir. Masir adalah telur yang bertekstur seperti ada pasirnya. Mengapa telur asin bisa masir? Karena telur itik atau bebek ini lebih berminyak dari pada telur ayam, sehingga mengeluarkan minyak setelah selesai pengolahan. Telur asin juga sudah menjadi hidangan utama, dan hidangan sampingan. Proses pembuatan telur asin ternyata cukup praktis, loh. Bahan-bahannya adalah telur iti...

LUKISAN IKAN KOI

Gambar
 LUKISAN IKAN KOI Penulis : Lidwina Ro  Ikan koi adalah ikan yang awalnya berasal dari Persia. Lalu dibawa ke Jepang dan dikembangkan di sana. Ikan dengan corak warna cerah itu memang sangat disukai banyak orang. Bahkan ikan koi disebut-sebut sebagai ikan pembawa keberuntungan. Masyarakat Jepang menyebut ikan koi dengan sebutan Nishikigoi. Artinya kurang lebih ikan yang berwarna-warni. Indonesia mulai mengenal ikan koi pada tahun 1991. Pada waktu itu kaisar Jepang Akihito datang ke Indonesia, dan memberi puluhan ikan koi sebagai kenang-kenangan kepada Bapak Presiden Soeharto. Di pasar internasional, ikan koi merupakan primadona ikan hias air tawar sampai sekarang. Harganya sampai menembus jutaan rupiah.  Jadi tidak heran kalau ikan koi selain merupakan hewan peliharaan, juga bisa menjadi sumber penghasilan karena pangsa pasar yang besar. Banyak orang memelihara ikan koi untuk dijadikan hiasan penambah nilai estetika dan tampilan cantik rumah-rumah pribadi di ruang tamu, t...