Postingan

YANG INGIN KUMULAI

Gambar
 YANG INGIN KUMULAI Penulis : Lidwina Ro Judul kali ini cukup istimewa dan unik. Pernyataan yang menarik bagi aku. Apa saja yang ingin kumulai? Wah, rasanya seperti membangkitkan banyak keinginan jaman dulu yang telah lama tertinggal di belakangku. Sebenarnya banyak hal-hal menarik yang menjadi angan-anganku sejak dulu. Tetapi karena tenaga dan pikiran banyak tersita untuk urusan rumah tangga dan merawat anak, akhirnya angan-anganku pun mulai pudar tergerus waktu. Kini anak-anak sudah besar. Kesempatan dan celah untuk mewujudkan anganku tampaknya mulai terbuka. Salah satu yang ingin kumulai nanti adalah : 1. Aku ingin mulai mengunjungi beberapa tempat yang indah-indah dan punya kesenian khas di luar kota, serta bisa mbolang di pasar tradisional, mengicip berbagai ragam kuliner makanan daerahnya. 2. Aku ingin mulai hidup lebih sehat lagi, harus bisa mengurangi makanan manis dan berlemak seperti JCo, mi gacoan level lima, martabak bangka full keju cokelat, nasi padang dengan paru...

NO KOMEN

Gambar
 NO KOMEN Penulis : Lidwina Ro  Pernah enggak, sih,  dicurhati oleh teman satu kantor atau teman satu geng arisan, teman satu sanggar senam atau teman apa sajalah, tentang pasangannya atau apa saja? Pasti pernah lah, ya. Aku pun juga pernah, kok. Ketidak nyamanan, perselisihan, atau kecemburuan dalam hati kadang-kadang mereka ceritakan usai kegiatan selesai. Aku yang sepertinya seorang pendengar tulen, dengan tenang selalu menyimak unek-unek mereka. Aku tahu setelah mengeluarkan unek-unek dari pikiran, setidaknya dapat mengurangi beban, dan menjadi lebih lega, apa pun versi mereka. “Sebel aku sama suamiku. Bayangkan saja, Mbak Lid. Masak iya sebulannya hanya ngasih uang segini. Zaman sekarang apa-apa mahal. Beras, telur, cabai naik terus. Belum untuk jajannya anak-anak, beli ini itu ...” “Tahu Jeng Kelin, kan, Mbak Lid? Itu, member senam yang baru itu, loh. Punya mobil baru seken saja, dah kayak gitu. Sekarang jadi berubah, sok tajir banget.” Seperti nenek tua yang sudah ...

KADO

Gambar
 KADO Penulis : Lidwina Ro  Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia, semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. Bagiku hidup ini adalah anugerah (biar mudah, membayangkannya seperti kita diberi kado oleh seseorang di saat kita berulang tahun) Jadi hidup ini seperti kado, hanya pemberian belaka. Tentu saja kita tidak dapat memilih kado atau menentukan isi kado dari orang yang memberikan. Yang bisa Kita lakukan hanya dapat menerimanya saja dengan bersyukur dan berterima kasih. (untung loh, ada yang ngasih ucapan selamat atau kado pas ultah, sebagai tanda perhatian dan sayang. Lah kalau enggak ada yang ngasih gimana? Kasihan, deh lo ...)  Hidup bagiku juga sebuah misteri. Dari rahim siapa kita dilahirkan, apakah lahir prematur atau normal, apakah orang tua kita kaya raya atau biasa-biasa saja, bahkan ditakdirkan lahir  di lingkungan bahagia atau di lingkungan to...

STOP MENENGOK

Gambar
 STOP MENENGOK Penulis : Lidwina Ro “Dia dulu pernah berbohong padaku. Jadi aku tidak percaya padanya lagi.” “Bagaimana kalau ternyata dia tidak berubah? Aku masih curiga dan selalu waswas.” “Pengkhianatannya tidak pernah akan aku lupakan.” Pernah mendengar curhatan seperti ini? Aku sering. Sadar atau tidak sadar, kita sering menyimpan kesalahan-kesalahan orang. Pengalaman buruk dan kegagalan-kegagalan kita di masa lalu sering kali tidak mudah kita lepaskan begitu saja dari dalam pikiran kita. Ya, semua itu begitu sulit untuk kita lupakan. Semua hal negatif berkumpul di bagian otak kita, dan tiba-tiba bisa mencuat muncul di waktu tertentu. Seolah rajin mengingatkan kita kembali pada kejadian buruk di sama lampau. Mengaduk-aduk perasaan dan membuat kita sedih, marah, kecewa lagi, dan akhirnya menjadi bad mood. Halo teman-teman yang baik hati, boleh tidak kalau sekarang kita stop menengok ke belakang? Kita seharusnya mulai belajar dan bijak memandang ke depan. Tidak menoleh ke bel...

BARU TAHU

Gambar
 Baru Tahu  Penulis : Lidwina Ro  Awam dalam dunia literasi, membuatku terheran-heran bingung dan kagum pada semua teman menulisku. Bagaimana tidak heran, kalau setiap hari mereka mampu menulis, bahkan dengan berbagai genre. Dalam hatiku selalu bertanya-tanya, dari mana semua ide itu mengalir, ya? Sudah seperti sulapan saja, setiap hari bisa menulis dengan rutin dan konsisten. Karena penasaran, aku pun mencoba ikut-ikutan bergabung dengan komunitas menulis atas dasar rekomendasi salah seorang sahabat baikku. Setelah ikut beberapa bulan dalam banyak komunitas menulis, akhirnya aku baru tahu, dari mana semua ide menulis itu muncul.  Jadi, rahasianya ternyata gampang-gampang puyeng, ya. Ini, kunci rahasianya, yaitu ATM. Bukan Anjungan Tunai Mandiri, ya! Melainkan singkatan dari : Amati Tiru  Modifikasi. Wow sekali, ya?  Lalu apa dan bagaimana itu? Maka aku pun ( tidak pakai lama ) mencoba menjalankan saran kakak-kakak seniorku tersebut. A.Amati. Jadi bahan unt...

MASA REMAJA

Gambar
 MASA REMAJA Penulis : Lidwina Ro  “Eh, aku saja yang dekat jendela, ya!” “Serah, kau sajalah, Coi” “Asyik, asyik!” “Biasa aja, kali!” “Kau memang besti-ku yang tak ada duanya!” Suara ceria khas remaja itu membuatku berhenti menggulir layar ponsel, dan menoleh pada dua gadis muda membawa ransel di bahu, yang baru saja naik dari stasiun Poncol. Dua remaja itu lalu duduk bersebelahan. Gadis yang mendapat bagian di sebelah jendela itu lalu sibuk dengan charger dan ponselnya, sedang yang di sebelahnya asyik membongkar tas Mc Donald’s. Otakku pun lalu berspekulasi, tentang apa yang muncul dari tas cokelat besar itu. Tidak aku sangka, gadis itu ternyata mengambil nasi bungkus. Lalu tidak pakai lama, gadis itu bersikap dan ‘muluk’ nasinya dengan lahap (makan dengan menggunakan tangan) Wow! Dalam hati aku tersenyum sendiri. Untuk ukuran remaja kekinian, dengan celana ketat biru, T-shirt dan jaket jeans, tingkah gadis itu termasuk unik. Dia sama sekali tidak malu makan nasi bungkus di ...

SANG WAKTU

Gambar
 SANG WAKTU Penulis : Lidwina Ro  Tahu petis yang tersaji panas di atas tikar belum lah habis, saat mataku menatap sebuah keluarga kecil tak jauh dariku yang sedang lesehan. Mereka duduk di tikar yang lain. Tepat berada di sebelah kananku. Sang ibu tampak memangku anak perempuannya. Sedang ayahnya menuntun anak lelakinya yang baru bisa berjalan di pinggir rerumputan alun-alun. Sang kakak bertepuk tangan menyemangati langkah adiknya yang terseok-seok. Dan si adik membalas dengan tawa riang di antara liurnya yang menetes. Ah, lucu sekali. Semua tertawa dengan riang. Wah, keluarga yang bahagia. Sebenarnya untuk  bahagia tidaklah susah, bukan? Pemandangan itu lantas mengembalikan ingatanku pada tahun-tahun lama. Tahun yang dulu pernah aku alami juga. Kehangatan suasana kebersamaan dan tawa anak-anakku yang dulu, kini amat sangat kurindukan. Dulu aku harus memutuskan untuk tidak bekerja lagi karena harus mengasuh anak-anak di rumah. Setiap hari mengurus keperluan seluruh rumah...