Postingan

PIM REUNI batch2 (2)

Gambar
 PIM REUNI batch2 (2) Penulis : Lidwina Rohani  Meskipun hari ini, saya sudah kembali ke laptop alias kembali nguli di Cikarang ( padahal sampai di rumah pukul 03.00 dini hari lho ) keseruan, keakraban, dan perasaan mengharu biru pada hari Minggu, tanggal 28 Agustus 2022 kemarin, masih kental tersisa di dalam hati. Perasaan kami seperti kembali ke masa lalu. Banyak bayangan yang bermunculan tergali. Raut wajah yang gembira, polos, antusias. Wajah-wajah siswa yang rajin belajar, juga wajah-wajah bandel yang tengil ketika menjalani serangkaian kegiatan belajar mengajar ( termasuk saya, ya, yang bandel, karena sering ikutan membolos bersama-sama sohib, demi menonton film di bioskop yang tidak jauh dari sekolah, ah, ketahuan, deh, nakalnya! ) Tentu saja lebih banyak event kenakalan dan keisengan khas siswa farmasi yang terekam paten di dalam pikiran kami. Beberapa guru-guru yang sudah sepuh ada yang menyempatkan datang ke acara reuni kemarin, misalnya Pak Karya ( guru Ilmu Resep) ...

PIM REUNI batch2

Gambar
 PIM REUNI batch2 Penulis : Lidwina Rohani Akhirnya reuni batch 2 PIM ( Putera Indonesia Malang) digelar lagi setelah dua tahun. Sekolah Farmasi yang terletak di jalan Barito di kota Malang itu memang menjadi cikal bakal di mulainya perjalanan hidup. Banyak kenangan lebur menjadi satu di jalan Barito tersebut. Baik kenangan manis atau kenangan pahit. Lho, kok kenangan pahit? Ya, iya lah, telat membayar SPP adalah salah satu kenangan pahit. Bagaimana tidak pahit, karena wali selalu dipanggil menghadap pihak sekolah untuk di interogasi. Hehehe. Duh, maafkan! Sekedar melepas sejenak rindu pada keseruan suasana masa-masa muda di sekolah farmasi, maka ijin mbolang pun diberi suami.  Minggu, tanggal 28 Agustus adalah reuni puncaknya atau reuni Akbar bersama seluruh angkatan, mulai dari angkatan tahun 1969. Wah, berul-betul surprise bisa melihat kakak-kakak angkatan pertama bisa hadir di acara. Memang tidak semua bisa hadir, akan tetapi perwakilan dari mereka yang sudah sepuh, sangat...

DI BALIK PELANGI

Gambar
 DI BALIK PELANGI Penulis : Lidwina Ro Ketukan pada pintu utama kembali terdengar. Sekilas ada bayangan di balik gorden dekat pintu masuk. Tidak terlalu nyata karena terhalang gorden. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Huh! Semalam ini masih ada orang yang ingin bertamu?  Dengan setengah hati kakiku menggaet sandal jepit kuning yang tergeletak tak jauh dari meja ruang tengah, lalu berdiri meletakkan remot TV di sofa. Bergegas aku membuka pintu dengan sedikit menggerutu. Meninggalkan talkshow yang sedang tayang seru di televisi. Menyebalkan memang. Siapa sebenarnya yang mengetuk pintu terus menerus ini? Apa tidak tahu kalau sekarang sudah terlalu malam untuk bertamu ke rumah seseorang? Dengan sedikit penasaran aku memutar kunci dan ... sosok menjulang tinggi sudah menantiku dengan sepasang mata yang menatap tajam. Bola mataku membesar, menatap tidak percaya pada sang tamu yang melipat kedua tangannya di depan dada. Tak sadar kakiku mundur selangkah. Entah menga...

HAPPY TRAVELING

Gambar
 HAPPY TRAVELING Penulis : Lidwina Rohani Entah sudah berapa lama tidak menikmati lagi bepergian dengan menggunakan kereta api. Mungkin sejak menikah. Karena setelah menikah, mobillah yang menjadi andalan di setiap perjalanan ke luar kota. Entah menengok mertua, atau berlibur ketika musim liburan semester anak-anak tiba. Mulai tanggal 1 Maret 2022, ada kabar gembira karena PT. Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melayani 11 perjalanan kereta api jarak jauh (KAJJ) Pulang pergi (PP) dengan berbagai tujuan. Kota-kota tersebut di antaranya adalah : Cirebon, Purwokerto, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya dan Malang. PT KAI Daop 1 sudah menyiapkan beberapa fasilitas pendukung di Stasiun Cikarang seperti Loket Go Show, Layanan Pelanggan, Gate Boarding, ruang tunggu, mini market dan sebagainya. Untuk masa sekarang, calon penumpang kereta api tidak lagi harus melakukan Test Antigen kalau sudah memenuhi persyaratan. Apakah syaratnya? Yaitu sudah melakukan 3 vaksin. Cara pemesa...

MENDUA (3)

Gambar
Penulos : Lidwina Ro  Kedua keluarga besar kemarin sudah saling bertemu. Berarti tinggal menetapkan hari pertunanganku. Ibu dan Bapak tidak bisa lagi memohon kepada Kak Jingga, karena sudah ada janin dalam perut kakakku bersama dengan kekasih barunya. Orang tuaku berencana akan menikahkan mereka secepatnya. Apakah jarak yang memisahkan antara Kak Jingga dan Bimo adalah penyebab adanya orang ke tiga masuk? Entah lah. Tapi aku bisa menangkap sekelebat penyesalan Kak Jingga di sela-sela permohonan maafnya padaku kemarin. “Aku tidak menyangka Kakek masih bersikeras menjadikan Bimo bagian dari keluarga setelah aku melakukan kesalahan, Lis. Maafkan aku.” Melihat tangisan kakak kandungku yang terlanjur berbadan dua, aku menjadi lunglai, merasa kalah, dan tidak berkutik. “Lis, meskipun Bimo tidak terlalu suka bicara, tapi Bimo lelaki baik dan bisa dipercaya. Kakak bersalah sudah mengecewakannya.” Rasanya aku ingin berteriak saja di depan wajah Kak Jingga. Kalau Bimo lelaki baik, mengapa Ka...

MENDUA (2)

Gambar
Penulis : Lidwina Ro  Mengapa di dunia ini masih ada stok lelaki macam Bimo? Aneh bin ajaib. Ketika Kak Jingga kabur bersama kekasih barunya, bisa-bisanya dia dengan gampang menyetujui saran orang tuanya untuk tetap meneruskan ikatan antara dua keluarga yang sudah lama bersahabat. Caranya? Ya dengan menyambung kembali pertunangan yang telah kandas. Kan, ini tidak masuk akal sama sekali? Seperti tidak ada wanita lain di dunia ini saja.  “Kita jalani saja dulu, Lis,” gumam Bimo dengan kalem, ketika menerima tatapan tidak senang dariku. Hm, enteng sekali lelaki itu bicara. “Tapi ... tapi aku sudah punya pacar, Bim. Kau tahu itu.” “Tapi kau juga tahu, kan, penyakit yang di derita oleh kakekmu dan kakekku?” Aku terpaksa menggigit lidahku sendiri. Bimo benar. Entah untuk berapa lama lagi, kakekku bisa bertahan bertarung hidup di dunia ini. Akan tetapi, haruskah perjodohan konyol yang sudah ketinggalan zaman ini dipertahankan, dan memakan korban? Aku meniup kopi aren yang sudah tersa...

MENDUA

Gambar
 MENDUA Penulis : Lidwina Ro Dari dalam dapur aku mencuri pandang ke arah Bimo. Lelaki itu tampak bersikap santai di tengah-tengah kehangatan canda tawa dua keluarga. Garis wajahnya yang di topang rahang tegas memancarkan kedewasaan. Sepasang matanya bersinar, seakan lebur bersama kegembiraan canda tawa seisi rumah. Tidak ada gurat penyesalan. Tidak ada kesedihan sama sekali. Semua seperti terlihat normal. Munafik!  “Lho, kok? Mengapa Non Lisi malah ada di sini?” Aku sedikit tersentak kaget. Dengan sedikit enggan terpaksa aku mengakhiri pantauanku. Segera tanganku menyambar sembarangan sebuah gelas di rak piring. Bi Murni seperti biasa tersenyum lembut, buru-buru pembantu tua itu menghampiri aku.  “Ingin minum apa, Non? Sini Bibi buatkan. Mau kopi aren, ya?”   Pembantu tua yang sudah hafal minuman kesukaanku itu, langsung mengambil gelas dari tanganku sambil terkekeh, dan membawa gelas menuju termos yang terletak di ujung meja dapur. Aku hanya bisa terdiam denga...