THREE IN ONE
THREE IN ONE
Penulis : Lidwina Ro
Mataku seketika gelisah menatap jalanan, saat Yoga menghampiriku. Tubuhku yang dari tadi panas dingin sejak mengikuti rangkaian acara reuni SMA, kini tambah ambyar, berasa tak menentu. Dadaku seperti meledak ketika mata Yoga menatapku lekat.
Tujuh tahun sudah berlalu, tetapi mengapa hatiku masih terasa sakit bukan kepalang. Harusnya aku tak menghadiri reuni ini. Melihat Yoga, sama saja seperti membuka luka lama. Pedihnya bukan kepalang.
“Sudah mau pulang, Mika?” tanyanya dengan kedua tangan terbenam di saku celananya.
Aku hanya mampu mengangguk. Harum maskulinnya seketika menyeret ingatan ke masa lampau. Sungguh, sesak sekali dadaku mendengar suara baritonnya. Aduh, aduh.
“Lama kau tak pernah menghadiri reuni. Apa kau menghindariku?” Mata Yoga menyipit, seperti paranormal yang sudah tahu akar persoalan.
“Aku sibuk,” bantahku cepat. Padahal iya, iya! Aku memang menghindarinya. Entah mengapa sulit sekali mengusir bayangan Yoga, padahal lelaki itu sudah menjadi milik orang. Menyedihkan sekali aku ini.
Yoga tertawa kecil. Seolah mengetahui kebohonganku. Kukira setelah tujuh tahun aku bisa melupakan si kunyuk Yoga yang berkhianat dengan sahabatku sendiri. Ternyata aku salah. Mungkin kadar cintaku menurun, tetapi lukaku tidak. Tetap masih luka yang sama.
“Kau ... sudah menikah, Mik?” tanya Yoga.
Tubuhku membeku. Jantungku seperti diremas. Ah, kalau saja menikah semudah itu, pasti aku tidak perlu sok sibuk setiap hari, tenggelam dalam berbagai rutinitas yang melelahkan. Tujuannya hanya satu, agar bisa melupakan luka. Belum sempat aku bereaksi, sebuah mobil berhenti di depan kami. Kaca mobil turun perlahan.
“Maaf, aku terlambat, Sayang.”
Diam-diam aku merasa lega. Adam turun dari mobil, berbasa-basi sebentar dengan Yoga, tak lupa mengenalkan dirinya sebagai calon suamiku. Wajah Yoga terlihat merah padam. Entah mengapa atmosfer di sekitarku berasa makin hangat.
*
“Kenapa diam? Kau tidak apa-apa, Mik? Kau senang bertemu dengan teman-temanmu di reuni tadi?” Adam menggenggam jemariku sambil menyetir mobil.
“Aku senang. Terima kasih, kau sudah memaksaku untuk hadir reuni.”
Seharusnya aku sadar, Adam berkata benar, kalau cinta itu three in one. Cinta itu sepaket dengan bahagia, luka dan khianat. Cinta tak pernah jauh dari ketiganya itu. Terima paketnya dan sekaligus hikmahnya, lalu jalani saja dengan bersyukur setiap hari.
Karena hidup itu sejatinya sederhana. Hanya manusianya saja yang berpikirnya terlalu rumit. Mungkin seperti aku.
Cikarang, 151222
Komentar
Posting Komentar