Move On
MOVE ON
Penulis : Lidwina Ro
Hujan belum juga reda. Aku terpaksa harus duduk kembali di sudut kafe, padahal kakiku sudah tidak sabar untuk minggat dari sini. Khawatir mataku yang sudah pedas ini menyerah membuka bendungan air mata. Duh, mengapa aku jadi cengeng? Diam-diam aku menyesal, mengapa memilih singgah di kafe yang penuh kenangan ini.
Aku berusaha fokus pada secangkir Latte-ku yang masih sisa separo. Berkali-kali aku menggulir layar ponsel, untuk memeriksa pesan masuk, tetapi masih sama. Centang satu.
Sementara dalam bilik hati yang paling dalam, keluar satu persatu siluet wajah yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatanku. Bagaimana bisa, penghianat cinta itu masih ada di dalam hatiku? Lebih aneh lagi, mengapa aku belum berhasil menendangnya keluar dari dalam hatiku?
Kalau ini yang namanya cinta, pasti omong kosong! Cinta itu seharusnya bisa membuat perasaan nyaman dan bahagia. Meskipun aku sudah mencoba merelakannya pergi, tetapi tetap saja ada bagian dalam hatiku yang ikut hilang bersama ... dia.
“Sendirian, Yo?”
Akhirnya aku tertangkap basah juga. Ferdi tiba-tiba sudah menghampiriku, dan duduk tepat di depanku. Aku kelimpungan. Bukan dengan Ferdi. Tetapi lebih dengan hatiku sendiri.
Di luar aku mengangguk sok santai, tetapi di dalam berjuang menenangkan jantungku yang mendadak eror.
“Gimana kabarmu? Kau baik?”
“Aku baik,” sahutku sambil mengukir senyum semanis mungkin. Baik dari Hongkong? Bagaimana mungkin hati yang dikhianati bisa membaik secepat kilat? Memangnya apa lagi Ferdi inginkan? Apa ingin melihatku terlihat bodoh?
“Masih deras. Apa kau mau kuantar pulang?”
“Tidak perlu. Aku sudah datang! Kita pulang sekarang, Yoan.”
Bintang tiba-tiba muncul entah dari mana. Membuyarkan ketegangan. Aku bernapas lega. Akhirnya aku terlepas dari situasi sulit ini.
***
“Lama sekali kau datang, Bin!” sungutku sambil cemberut.
“Eh, macet, tahu! Makanya cepet move on sana, cari pacar baru. Ngrepotin aku saja, kau!” sahut Bintang tak mau kalah dengan mulut monyong.
Aku terkekeh, kuhadiahi Bintang dengan satu pukulan ringan di punggung. Apa gunanya sahabat, kalau tidak mau aku repotin? Semoga Desember adalah awal untuk aku move on. Ya, semoga saja!
Cikarang, 221222
Komentar
Posting Komentar