KIRANA (3)
Penulis : Lidwina Rohani
Saskia mendekat, lalu merangkul bahuku erat. Aku merasa ada aura janggal dalam pelukannya. Sepertinya Saskia menahan tangis.
“Seandainya aku bisa mengajakmu, Ki.”
Aku tertegun. Eh, Saskia mau pergi ke mana?
“Mengajakku ke mana, Sas? Kau mau ke mana?”
Saskia tidak menjawab, tapi malah terisak-isak kecil. Dengan bingung aku mencari kedua tangan Saskia.
‘A-apa yang terjadi, Sas? Me-mengapa kamu menangis?” tanyaku khawatir.
Saskia makin memelukku erat, tangisnya makin keras. Aku mencoba mengurai pelukan teman sekamarku dengan rasa penasaran.
“Jangan membuatku takut, Sas. Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Aku akan meninggalkan panti, Ki.”
Aku kaget. Terbelalak tak percaya. Samar aku melihat anggukan lemah Saskia. Lambat laun otakku pun mulai mencerna dan merangkai utuh kalimat Saskia. Perasaan bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Bahagia karena Saskia akan mendapat keluarga baru yang akan merawatnya dengan sepenuh cinta. Sedih karena Saskia akan meninggalkan panti asuhan, sekaligus meninggalkan aku. Oh, beruntungnya Saskia!
“Tidak apa-apa, Sas. Aku bahagia untukmu. Bukankah katamu ... kalau sudah besar, kau ingin menjadi dokter? Cita-citamu pasti tercapai nanti.”
“Bagaimana denganmu?” bisik Saskia.
“Ada apa denganku? Aku akan tetap di sini, kan, Sas. Seringlah main ke panti nanti, ya, Sas.”
Saskia menangis. Memelukku erat seakan tidak mau melepaskan aku.
“Pasti kami nanti akan sering main ke Panti.”
Aku mencari sumber suara yang aku kenal itu. Bukankah itu suara Ibu Sara? Benar! Itu pasti suara Ibu Sara. Aku menghirup dan mengenal wangi aromanya. Jadi wanita wangi seribu bunga itu memilih Saskia untuk menjadikan anaknya. Tentu saja Ibu Sara lebih memilih anak yang normal. Dan anak itu ... tentu bukan aku. Oh, Tuhan ....
Di belakang Ibu Sara, berdiri seorang lelaki. Apakah dia ... papa baru Saskia? Itu berarti, mereka adalah orang tua yang mengadopsi Saskia.
Seketika seperti ada tangan tak kasatmata yang meremas hatiku saat wanita yang wangi itu ikut memelukku bersama Saskia. Hatiku sangat remuk, tak berbentuk.
***
Komentar
Posting Komentar