Kebun Sawo Bude Tinah


KEBUN SAWO BUDE TINAH (2)
Penulis : Lidwina Rohani 

“Sate, Neng Titi?” 


Aku menoleh. Di seberang jalan tampak Pak Jo sedang asyik mengipasi sate ayam. Baunya semerbak lezat sampai ke mana-mana. Perpaduan antara bumbu kecap, daging ayam dan bara arang yang pas, sehingga mampu menggoda hidung siapa saja yang kebetulan menghirupnya. Menerbitkan rasa lapar.
Ah! Aku tersenyum lebar. Sontak mataku melebar dan celingukan. Netraku berusaha menembus sore yang mulai gelap. Tapi ... di mana dia? Di mana anak perempuan kecil yang pernah ikut Pak Jo berkeliling seperti yang kujumpai beberapa waktu yang lalu itu? Mengapa hari ini dia tidak kelihatan?
Pak Jo terkekeh geli melihat gelagatku. Tangannya masih sibuk mengayunkan kipas bambu ke kanan-kiri pada permukaan sate. Gerimis kecil agaknya tidak mampu memadamkan bara arangnya.

“Mencari Arum?” tanya Pak Jo mengulum senyum.

“Iya. Cucunya Pak Jo tidak ikut?” 

“Hari ini tidak. Arum lagi mengambek, Neng.”

Aku lalu menyeberang jalan. Menghampiri gerobak sate Pak Jo yang berhenti di tepi jalan. Di depan kebun sawo Bude Tinah yang sangat luas.

“Mengapa Arum mengambek, Pak Jo?” tanyaku penasaran. Aku memang menyukai Arum, karena aku merasa anak kecil itu hampir mirip denganku. Pendiam. 

Kata Pak Jo, Arum menjadi sangat pendiam sejak berpisah dengan ibunya.

 “Enggak tahu, Neng. Makin besar si Arum makin nakal. Kalau permintaannya tidak dipenuhi, dia selalu menangis. Eh, dengar tidak, Neng? Tuh, suara tangisnya sampai kedengaran dari sini, tuh.” Tangan Pak Jo menunjuk jauh ke satu arah.

Aku mempertajam telinga. Dan memang benar, tangis Arum sayup-sayup terdengar. Ah, mengapa anak kecil yang manis itu menangis? Apakah Arum merindukan ibunya, ya? Ada iba yang tiba-tiba menyeruak muncul. Seraut wajah anak cantik dan mungil segera menjelma utuh di pikiranku. Kedua matanya sendu dan menatap sedih. 

Aku bertemu dengan Arum dua kali, dan entah mengapa aku jatuh hati pada anak itu. Seperti aku, Arum adalah sosok anak kesepian yang selalu mendambakan kasih sayang, karena harus terpisah dari ibu. Beruntung Bibi Naning masih mau merawatku, seperti Arum yang juga sudah dirawat oleh Pak Jo.

(Bersambung)

Cikarang, 160922

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fenomena Reading Slump

BASWARA (4)

LANGIT BIRU