JIKA CINTA
JIKA CINTA (2)
Penulis : Lidwina Rohani
Karena mamanya Ratih sudah lama meninggal, dan papanya selalu sibuk bekerja di perusahaan milik keluarga, maka Ratih lebih banyak tumbuh dan bergaul bersama Raga di rumah. Tidak heran jika Raga menjaga adiknya dengan sangat ketat. Hal itu membuat Ratih menjadi agak kurang nyaman. Mau bagaimana lagi? Bukankah Ratih adik satu-satunya Raga?
“Laras?”
Aku menoleh kaget. Lupa kalau aku berada di rumah Ratih sekarang. Melihat mata Raga yang langsung berkeliling menjelajahi kamar, aku tahu siapa yang sedang dicarinya.
“Mana Ratih?”
“Eh, itu, masih mandi.” Gugup aku menunjuk ke kamar mandi di sebelah sudut ruang kamar. Apa sekarang saja, aku memberitahu Raga? Katakan dengan cepat, agar rasa gugupnya tidak kelihatan. Pokoknya jangan sampai ketahuan kalau berbohong. Bisa kacau jika terbongkar.
“Ada apa?” tanya Raga memutus ramainya isi pikiranku.
Masih di ujung pintu kamar, Raga menyipitkan mata. Menatap lurus, tepat ke arahku, seolah-olah sudah mengendus aroma yang ganjil.
Aku melangkah ragu mendekati Raga ke pintu. Mau bagaimana lagi? Demi persahabatanku dengan Ratih, aku harus menolongnya memuluskan acara malam mingguannya dengan Anggara.
“Ada tugas sekolah. Boleh besok Sabtu, Ratih ke rumahku sampai malam?”
Mata Raga menelisik. Sekuat hati aku meredakan debar di hati, agar tidak terlihat cemas. Mata cokelat tua itu menyorot tenang, penuh selidik, tetapi ... hangat.
“Hm. Sampai jam berapa?”
Sampai jam berapa? Mati aku. Mana aku tahu kencan Ratih berapa lama? Pertanyaan sederhana yang tidak mampu aku jawab! Gawat! Bukankah aku tidak tahu mereka akan pergi ke mana? Sekedar jalan-jalankah? Makan? Atau mereka akan menonton bioskop?
Tiba-tiba Raga tertawa geli melihat raut wajahku. Menepuk pucuk kepalaku sambil pergi berlalu begitu saja. Apa aku sudah berhasil?
“Aku jemput besok Ratih di rumahmu jam delapan malam. Oke?”
Dari arah kamar mandi, Ratih memekik kecil. Buru-buru aku menutup pintu kamar Ratih setelah Raga pergi, dan menghampiri sahabatku itu.
“Jam delapan aku harus sudah sampai di rumahmu, begitu?” protes Ratih dengan bibir cemberut.
“Kakakmu lho yang menentukan itu,” sahutku membela diri.
“Model kencan apa coba?” keluh Ratih tidak puas.
“Sudah lumayan dapat tiket jalan. Jaga sikap, ya pada kencan pertama,” sahutku mengingatkan. Ratih cekikikan sambil mendekap ku erat, lalu mengecup pipiku dengan hangat
( Bersambung )
Cikarang, 240922
Komentar
Posting Komentar