HANTU DANAU BATU
Penulis : Lidwina Rohani
Bima menahan nafas, merasa agak aneh dengan nada suara Amelia.
“Maafkan aku, Amel. Aku sudah mengerahkan polisi untuk mencarimu selama dua hari di danau ini dulu. Tapi mereka tidak dapat menemukanmu. Jadi sebenarnya apa yang terjadi denganmu?” tanya Bima sambil merengkuh istrinya. Meskipun tidak mengelak, tetapi tubuh Amelia kaku dalam dekapan Bima. Sambil tersenyum Amelia mengurai pelukan, dan menatap tajam Bima.
Jujur saja bulu kuduk Bima merinding melihat mata sedingin itu. Senyum Amelia juga asing. Belum pernah Bima melihat senyum sesumbang itu.
“Seorang nelayan menemukanku pingsan, dan merawatku. Apakah baby Tiara baik-baik saja?”
Bima mengangguk cepat. “Mari kita segera pulang, dan menemui Tiara.”
“Tunggu, Mas. Tolong ambilkan aku dulu uang di ATM sebagai tanda terima kasihku pada nelayan yang merawatku. Dompetku ... hanyut.”
Bima mengangguk, melesat pergi dan menyuruh Jaelani menemani Amel selagi dia mencari ATM terdekat.
“Sudah kau lakukan semua perintahku, Jaelani?”
“Rem mobil Bima sudah aku rusak sesuai perintahmu, Mbak Emili.”
***
Beberapa jam kemudian ruas jalan sempit pegunungan menuju Danau Batu mulai ramai dan macet. Sirene mobil ambulans melintas memekakkan telinga.
“Seperti prediksimu, mobil Bima terguling di jurang, Mbak Emili. Kabarnya dia tewas,” bisik Jaelani melapor.
“Itu akibat bersekongkol dengan Fitri untuk menenggelamkan adik kembarku Amelia. Tugas kita berikutnya mengambil Tiara dari tangan Fitri.”
Tiba-tiba jatuh dari genggaman Emili, sebuah dompet lembab dan lusuh terbuka. Beberapa kartu nama menyembul kotor penuh lumpur kering di sana.
Emili menyeringai kejam. “Untunglah kau meneleponku lebih dulu, Jaelani. Terima kasih kau membantuku menyamar menjadi sopir kepa rat itu.”
Dari kejauhan suara sirene masih terdengar meraung-raung. Gemanya terasa menyesakkan dan menyakitkan hati Emili. Dendamnya masih membara mengingat adik kembarnya Amelia yang mati konyol di tangan Bima dan Fitri.
Sementara Jaelani, nelayan yang menemukan tubuh kaku Amelia di belakang gubuknya setahun yang lalu hanya bisa mengangguk, dan mengikuti langkah Emili yang menjauh dari Danau Batu. Emili menuju mobil yang berada di belakang semak-semak, tak jauh dari danau. Pengunjung Danau Batu pun satu-satu mulai bermunculan. Tempat wisata itu kembali semarak beraktivitas seperti sedia kala.
(Selesai )
Cikarang, 090922
Komentar
Posting Komentar