Bukan Impian Semusim
Reading Challenge ODOP (2026)
Judul Buku: Bukan Impian Semusim
Penulis : Marga T.
Penerbit. : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2018
Jumlah : 425 halaman
Sumber : Perpustakaan Kabupaten Bekasi
Ulasan:
Sudah sejak SD, Nina ingin menjadi ‘mere’ atau suster (yaitu perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi kepada Tuhan dalam gereja Katolik) Nina memberitahukan keinginannya tersebut pada ibunya. Sang ibu setuju, lalu menyekolahkan Nina di asrama khusus perempuan di Jakarta.
Beberapa tahun kemudian, ibunya Nina jatuh sakit, dan lumpuh. Sudah banyak biaya pengobatan untuk menyembuhkan ibunya, namun belum juga berhasil. Karena lebih banyak merawat sang istri, pekerjaan ayahnya Nina jadi tidak maksimal. Ia pun dipecat oleh atasannya.
Tentang penyakit ibunya, dokter menyarankan untuk berobat ke Jakarta karena lebih lengkap. Maka pindahlah keluarga Nina dari Palembang ke Jakarta. Untuk menekan pengeluaran, Nina keluar dari asrama. Tinggal di rumah barunya yang kecil, masuk dalam gang kumuh, Nina pun menyadari bahwa keluarganya tidak sekaya dulu lagi. Harta benda orangtuanya sudah ludes untuk pengobatan kaki ibunya yang lumpuh. Nina bertambah nelangsa melihat hobi baru ayahnya, yaitu berjudi dan mabuk.
Di tengah ekonomi yang lumpuh, dan keluarga yang berantakan, Nina tetap memegang teguh cita-citanya untuk menjadi suster setamat SMA nanti. Niat Nina membuat sang ayah mengamuk. Nina dinilai egois, karena akan meninggalkan keluarganya begitu saja. Tidak merawat ibunya yang lumpuh, serta tidak membantu biaya sekolah dua adiknya.
Nina egois. Hal itu juga dikatakan oleh Miki (teman sekolah Nina, yang jatuh cinta padanya) Miki adalah kakak dari Ita, sahabat Nina. Jelas Miki tidak rela, Nina gadis yang dicintainya diam-diam itu, lebih memilih Tuhan, daripada dirinya. Bagi Miki, melayani Tuhan tidak harus mengabdi pada Tuhan dengan harus menjadi suster, karena melayani Tuhan, bisa dimulai dari mana saja. Bisa dari rumah. Merawat ibu yang lumpuh.
Nina sangat marah dan jengkel pada Miki karena mencampuri urusan pribadinya. Namun setelah memikirkan ucapan Miki, Nina sadar kalau ucapan Miki benar. Ia lalu mencari pekerjaan setelah lulus sekolah. Sebagai anak pertama, ia wajib menopang kehidupan keluarganya. Jadi ketika teman-temannya meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, mau tak mau Nina harus bekerja untuk biaya pengobatan ibunya, dan sekolah adik-adiknya.
Tidak disangka, Nina bekerja pada perusahaan papanya Miki. Nina dan Miki pun bertemu kembali, Miki sangat bahagia, karena selama ini Nina bagai hilang di telan bumi, karena rumah kumuhnya tidak terlacak oleh teman-teman sekolahnya. Pertemuan itu membuat Miki ingin mengenal Nina lebih dekat lagi. Miki akhirnya mengetahui situasi keluarga Nina. Dengan tulus Miki membantu membiayai operasi kaki ibunya Nina. Meskipun malu dan curiga di balik niat ketulusan hati Miki, namun tentu saja Nina tidak menolak bantuan Miki, karena ia ingin ibunya yang sangat disayanginya itu bisa berjalan normal lagi.
Tidak hanya itu saja, Miki juga memberikan pekerjaan pada ayahnya Nina sebagai pengawas di perkebunan yang dimiliki keluarganya. Hal itu membuat Miki disayang oleh seluruh keluarga Nina. Miki memang sengaja membuat hutang budi sebesar-besarnya agar Nina tidak bisa melunasinya, kecuali Nina mau menikah dengannya.
Merasa tidak mampu melunasi hutang budi, Nina pun setuju menikah, walaupun ia tidak mencintai Miki. Nina mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Merasa Nina tidak mencintainya, Miki berpikir, bahwa cintanya pada Nina mungkin hanya sebatas impian semusim. Bisa jadi suatu saat cinta itu tak bertahan, karena yang Miki tahu, Nina hanya mencintai Tuhan, dan mengabdi pada Tuhan dengan menjadi suster.
Ternyata Miki dan Nina sama-sama salah. Miki pantang menyerah untuk membuat Nina mencintainya. Segala cara dikerahkan agar Nina bisa mencintainya. Sedangkan cinta Miki yang begitu sabar dan dalam, akhirnya perlahan-lahan membuat Nina terharu dan paham. Nina mulai mencintai Miki. Nina juga mulai menyukai kehidupannya yang sekarang. Ternyata Nina bisa menikmati hidup, dan bahagia hidup bersama Miki walaupun tidak menjadi suster. Perasaan bersalahnya pada Tuhan, perlahan-lahan memudar. Kemudian Nina hamil, melahirkan bayi lelaki kembar. Bersama Miki, mereka membesarkan si kembar Joni dan Andi dengan sukacita penuh.
Kebahagian Nina ternyata tidak berlangsung lama, saat Nina mengetahui, bahwa Miki sebenarnya sudah lama mengidap kanker kelenjar yang sulit disembuhkan. Belum habis sedihnya, Nina bertambah syok ketika dua anaknya yang sudah beranjak remaja tiba-tiba meminta izin untuk sekolah khusus calon imam. Anaknya ingin menjadi pastor! Dua-duanya ingin menjadi pastor! Nina limbung, berpikir Tuhan pasti sedang membuat perhitungan dengannya. Tuhan pasti sedang menghukumnya. Balasan dari Tuhan, karena dulu ia ingkar janji melepaskan niat menjadi suster. Ini adalah harga yang harus dibayarnya! Kini Tuhan akan mengambil dua anaknya sekaligus!
Di tengah kesedihan memikirkan penyakit Miki yang tidak dapat disembuhkan, Nina berusaha tegar, dan mencoba berpikir jernih kembali. Meyakinkan dirinya, bahwa Tuhan selalu baik, dan tahu apa yang terbaik buat semua umatnya, tanpa kecuali. Nina memohon pada Tuhan, tidak mau kehilangan Miki terlalu cepat, setelah ia tahu arti cinta yang sesungguhnya. Dengan dibantu doa orang tua dan kedua anaknya, Nina berharap kuat melewati masa-masa paling gelap dalam hidupnya.
Seperti biasa, novel karangan Marga T. selalu menyatukan banyak sisi gaya ciri khas menulisnya. Humoris, humanis, menyentuh, namun juga mengajak para pembacanya berpikir dan hanyut dalam ceritanya. Novel ini mengisahkan perjuangan hidup seorang gadis bernama Nina, yang awalnya berjanji pada Tuhan, akan mengabdikan sisa hidup hanya untuk melayaniNya dengan menjadi ‘mere’ atau suster (yang tidak menikah seumur hidup) Ada prinsip hidup yang harus berbenturan dengan realitas. Bagaimana Nina mengambil pilihan langkah hidupnya, dan bagaimana pikiran awamnya tentang cara Tuhan merespons doa-doa dan perbuatan manusia, sungguh suatu dialog yang mendalam dan berkesan (bagi saya)
Alasan saya menyukai genre ini (fiksi-roman) karena selalu menemukan pembelajaran hebat dari berbagai sudut pandang tentang sekolah kehidupan real yang ‘sering’ luput dari pengamatan saya, sekaligus bisa belajar pula tentang psikologi manusia dalam merespons berbagai situasi dan kondisi.
@lidwina_ro

Alur ceritanya menyentuh sekali, jadi penasaran babgaimana alhir kehidupan Nina.
BalasHapus